Mau tau bagaimana persepsi konsumen atas (perang) iklan operator seluler? Silakan download file pdf di bawah ini.
Survey ini diikuti oleh 4888 orang dengan profil singkat responden:
- Pria: 85,64%, Perempuan: 14,36%
- Pendidikan: SMA 15,64%, D3 18,35%, S1 58,87%, S2-S3 7,14%
- Pekerjaan: Profesional 8,01%, Swasta 56,08%, PNS 7,2%, Wiraswasta 7,33%, Siswa/Mahasiswa 11,96%, Lainnya 9,42%
- Usia: s/d 16t 0,27%, 16-20t 7,11%, 21-25t 29,17%, 26-30t 29,98%, 31-35t 17,99%, 36-40t 9,26%, 41-45t 3,96%, <45t 2,17%
Ada 20 pertanyaan dan jawaban yang akan bisa menggambarkan seberapa positif/negatif citra iklan di benak konsumen, seberapa menguntungkan/menjebak informasi yang diberikan oleh operator, dll!
Survey online diselenggarakan atas kerjasama antara Center for ICT Studies Foundation ICT Watch dengan detikINET.
Beberapa hari yang lalu ada dialog Economic Chalanges di Metro TV yang di pandu Desi yang datang waktu itu salah satu Direktur Indosat, Direktur XL (live by phone), BRTI, dan KPPU. Tema yang di bahas kurang lebih seputar persaingan tarif murah antar operator seluler, dari data BRTI tarif seluler di Indonesia memang masih tergolong mahal jika di bandingkan dengan negara - negara lain walaupun pemerintah mulai 1 april ini sudah menurunkan tarif operator termasuk tarif interkoneksi.
Sebenarnya tanpa pemerintah membuat peraturan untuk menurunkan tarif, perang tarif antar operator pun sudah terjadi, apakah itu strategi utama operator seluler ? jika tarif di turunkan apakah ada imbas kepada efisiensi di seluruh bidang internal operator itu sendiri ? termasuk berimbas kepada cost budget para vendor nya ?
Teori ekonomi elastisitas di sini mungkin akan berlaku, dimana tarif di turunkan maka traffik tentunya akan naik sehingga hasil akhirnya akan sama saja bahkan lebih besar toh ternyata para operator tetap akan meraup keuntungan yang besar sesuai target yang diperhitungkan.
Terus, bagaimana dengan kulitas network yang ada seiring dengan peningkatan trafik nya ?? Dari data survey ini pun membuktikan bahwa kualitas di mata responden malah turun terbukti dengan data yang ada : Susah menelpon (mungkin Blocking) : 25.78%, Sambungan Putus tiba-tiba (drop call) : 22.55%.
Para pemasar atau marketer di sini sudah tidak memandang teori pemasaran lagi yang jelas trend ke depan dengan makin banyak nya operator harga bukan lagi menjadi kendala yang terpenting adalah kualitas dan features yang tersedia baik voice maupun data sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Positioning yang tepat, Diferensiasi yang jelas, serta Branding yang mantap akan menempatkan operator pada posisi yang jelas serta tidak terjebak pada hanya sekedar perang tarif.
wass,
Wahyu Prihantoro