Ketika operator sudah satu tower
Ah akhirnya Telkomsel mau membuka juga tower – tower nya untuk di sewakan kepada operator – operator lain mengikuti jejak 2 operator incumbent lainnya Indosat dan XL. Sejak peraturan pemerintah diberlakukan dan pemda – pemda juga mulai meliriknya maka setiap operator wajib mensharingkan towernya ke operator lain agar tidak terjadi hutan menara di mana – mana.
XL terlebih dahulu menyewakan tower – tower nya dengan mendirikan satu unit bisnis tersendiri untuk mengurusi hal – hal yang berkaitan dengan tower sharing, begitu juga dengan Indosat. Setelah lama di tunggu – tunggu operator dengan pemilik tower paling banyak yaitu Telkomsel akhirnya merilis untuk menyewakan tower – tower nya dengan tenant pertamanya dari HCPT walaupun masih untuk area Jawa dan Bali. Sepertinya tidak semudah itu Telkomsel langsung memutuskan untuk menyewakan tower – tower nya mengingat site to site distance nya tower Telkomsel sangat strategis dan di pandang sangat menguntungkan bagi para strategic planner untuk new comers bahkan issue – issue nya Telkomsel sengaja memenuhi tower – tower nya dengan band 1800 nya dahulu untuk memenuhi kualitas dan kapasitas agar window spacing antena nya tidak di sergap dahulu oleh opeartor lain setelah disewakan.
Lain hal nya ketiga operator tersebut operator – operator CDMA seperti Btel dan Smart lebih suka menjual tower nya kepada pihak ketiga agar lebih konsentrasi ke core bisnis mereka bahkan HCPT pun ikut menjual semua tower yang mereka punya. Alasan nya cukup masuk akal mereka akan lebih konsen ke core bisnis nya dan mengembangkan layanan yang lebih, terlebih dengan menjual semua tower yang ada akan menekan OPEX dan menghasilkan dana segar yang bisa digunakan untuk menambahkan CAPEX untuk kerpeluan expansi yang lebih luas begitu kurang lebih strategi yang mereka terapkan. Jadi kalo bangkrut kan tinggal pergi aja ga perlu ngurusin tanah, landlord, tower nya,dll hehehehe.
Ya fenomena itu memunculkan sebuah peluang (selalu di setiap masalah pasti ada peluang) untuk perusahaan – perusahaan vendor penyedia tower sharing baik membangun sendiri maupun membeli dari operator seperti Protelindo, Re tower, DSS, Kopnatel, Indonesian Tower, SIP, Tower Bersama, dll. Peluang ini juga rupanya yang di lirik oleh pemda – pemda dengan menerbitkan peraturan – peraturan daerah yang terkadang tidak sinkron dengan peraturan pemerintah pusat seperti harus menggunakan vendor lokal dimana pemda sudah bekerja sama dengan vendor lokal sehingga setiap operator yang ada di daerah tersebut harus menggunakan vendor tower lokal, banyak bentrokan – bentrokan dilapangan yang harus diselesaikan oleh para pemangku jabatan maupun para share holders pengendali bisnis telco di Indonesia.
So what’s the next ?
Ketika seluruh operator sudah menggunakan tower yang sama, lalu vendor yang sama (baik vendor kuning maupun vendor biru) terus bedanya apa dong antar satu operator dengan operator yang lain ? misal rumah gw di cover oleh tower A di koordinat long lat sekian – sekian terus di tower tersebut ada operator A dan B dan memakai sama – sama vendor Huawei terus harus pilih yang mana ya ? Lagi – lagi saya bukan orang marketing tapi logika saya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu membagi tipe konsumen sebagi berikut :
1. Branded Minded
– Konsumen yang cinta mati sama brand telco tertentu (kayak main bola kalo ga pake sepatu Adidas serasa ga afdol).
2. Number Minded
– Konsumen yang sudah cinta mati sama nomer yang pertama di beli karena biasanya nomer cantik atau nomer banyak kenangan.
3. Forced Customer
– Konsumen yang di paksa harus pake no dari operator tertentu, biasanya yang kerja di vendor A untuk operator B ya harus pake no operator B
.
4. Lazy Customer
– Konsumen yang males kalo udah pake satu nomer ya udah pake nomer itu terus jadi kalo mau pindah no yang lain males buat bikin woro – woro ke rekan – rekan nya bahwa dia sudah ganti nomer.
5. Features Minded
– Konsumen yang suka pake operator tertentu karena memang dia suka akan fetaures – features nya yang selalu update.
6. Swing Customer
– Konsumen yang selalu gonta ganti nomor baik karena faktor harga, kualitas, maupun karena faktor trend di lingkungan nya, biasanya para penjahat juga masuk kategori ini karena suka gonta – ganti nomor.
Kalo kita perhatikan dari 6 tipe konsumen di atas kita bisa otak atik otak data konsumen, ada kemungkinan konsumen yang branded minded dan number minded susah untuk ganti – ganti nomer tapi mereka ada kemungkinan juga punya secondly number nah nomer yang kedua ini yang bisa di garap oleh para operators (biasanya nomer yang kedua masuk swing customer).
Konsumen yang bertipe Forced Customer juga akan lebih banyak kemungkinan nya untuk mempunyai secondly number mengingat bisanya nomer yang pertama itu karena di paksa oleh perusahaan dan biasanya hanya untuk urusan pekerjaan jadi dia butuh satu nomer lagi untuk keperluan keluarga maupun teman – teman nya.
Lalu untuk tipe konsumen yang Lazy customer sepertinya jangan harap lah dia mau ganti nomer atau nambah nomer baru untuk jadi secondly number pake satu aja seperti nya sudah cukup ga ribet – ribet. Nah 2 tipe konsumen terkahir ini yaitu features customer dan swing customer ini konsumen yang kadang ga punya pendirian karena suka gonta ganti kartu tergantung features mana yang lagi ngetrend maupun tergantung mana yang lagi murah harganya (kemungkinan besar customer ini untuk secondly number).
Terlepas dari tipe konsumen kalo menurut gw ada 2 hal yang harus di pertimbangkan yaitu pertama Quality of Services yang selalu di jaga, dan yang kedua Added Value yang terus di inovasi baik inovasi dalam hal teknologi maupun layanan termasuk harga. Sehingga apapun tipe konsumen yang ada mereka berhak untuk mendapatkan kualitas dan pelayanan yang istimewa. Sebelum portable number di berlakukan tentunya.
Sorry kalo ada orang marketing jika bahasa gw tidak mencerminkan bahasa marketing, ya namanya juga opini bebas ber pendapat asal berdasar.
——- tulisan ketika sunyi itu tiba. 10.23 PM
May 28, 2009 at 3:59 am
Salam kenal Pak,..
>> klo saya punya nomer dari semua operator,.. tp tidak ganti2 termasuk customer yg mana,…
itu pun gara2,.. customer saya (operator) yg egois,.. klo ga di telp dari nomor network mereka,.. mereka g angkat telp / bales sms dari kita.
(sumpah bukan sampeyan kok pak,..
)
sampai sekaran saya masih merawat
XL- nomer asli punyak saya
Mentari – project Indosat – 2003
Halo – pas ngerjain project telkomsel 2004-2005
Axis – pas ngerjain AXIS Central java ( daerah kekuasaan panjenengan)
sy jg punya nomer dr operator lain, namun tidak saya lanjutkan pemakaiannya karena kapasitas HP sya tidak bisa sampai 3SIM dan multi Band.
sekedar sharing aja boss, gpp khan.
salam semarangan.
June 18, 2009 at 5:31 am
wah keren juga neh analisanya
July 2, 2009 at 7:34 am
itang itung cari yang untung,, otak atik cari yang unik, bolak balik cari yang asik, salam kenal ,,,