Integritas 2.0
Hampir setahun yang lalu torehan tulisan ini hendak di torehkan, tapi ah nanti dulu saja mudah – mudahan ada perubahan. Hmmm ternyata mungkin juga belum.
Menjadi bagian dari sebuah komunitas, organisasi, atau perusahaan tentunya kita adalah bagian dari sebuah kapal yang mempunyai arah dan tujuan mau kemana kapal itu di bawa. Tentunya kita menumpang suatu kapal karena kita pastinya ada kepentingan yang akan kita capai. Bagian terpenting adalah ketika sebuah kapal memberikan sebuah arah yang jelas, kenyamanan anak buah kapal, struktur yang jelas tentunya semua penghuni kapal akan bahu membahu menahan kapal dari terjangan badai dan ombak yang dahsyat.
Ketika memasuki sebuah perusahaan yang sebelumnya, sebuah harapan dan ekspektasi besar menanti, wajar karena sebuah harapan itu penting untuk mencapai tujuan yang akan kita arahkan. Dari sebuah harapan di situlah muncul sebuah keinginan, sebuah rasa, dan sebuah hasrat untuk selalu mencintai perusahaan. Implementasi dan wujud dari mencintai perusahaan adalah dengan memberikan kontribusi yang bagus untuk perusahaan dengan memberikan hasil karya yang selalu baik, selalu di perbaiki, dan terbaik. Sehingga mudah – mudahan ekspektasi itu bisa terwujud.
Sayang sekali ketika budaya perusahaan itu tidak terwujud. Sebagai sebuah kapal yang baru berlayar harusnya di butuhkan seluruh komponen tim yang tangguh , yang mengerti akan visi, yang mengerti akan ombak, yang mengerti akan badai. Ahhh saya hanya seorang kurcaci yang tidak bisa berbuat banyak waktu itu.
Awareness
Di era komunikasi terbuka sekarang mudah bagi kita untuk saling berbagi dan berkomunikasi dengan siapapun dan di manapun. Awareness di bangun sayang hanya untuk kepentingan branding perusahaan secara external, bagaimana dengan internal ? Terkadang masih terabaikan…Bagaimana membuat roh dari perusahaan ini melekat pada jiwa setiap karyawan, bagaimana membuat karyawan mengerti akan arah dan tujuan perusahaan, bagaimana membuat karyawan memberikan dedikasi yang terbaik, loyalitas yang bagus, dan karya yang terbaik tentunya. Sayang sekali proses ini jarang sekali terlihat, kapal itu hanya melihat keluar tanpa memandang ke dalam. Ada facebook, twitter, YM, BBM, dll hanya sekedar numpang lewat padahal perusahaan yang berbasis teknologi dan provider dari layanan ini tidak bisa memaksimalkan secara luas. Mereka lupa karena mereka hanya memandang keluar tanpa melihat ke dalam. Bayangkan jika awareness itu di tumbuhkan dari internal ? gunakan kekuatan media sosial itu untuk membangun awereness setiap karyawan nya terhadap perusahaan, jika setiap karyawan mempunyai facebook atau twitter atau YM atau BBM di gunakan untuk media komunikasi terbuka antara karyawan dengan management dan antara karyawan dengan konsumen maka citra dan cinta itu akan terbentuk. Sebuah kebanggaan ke perusahaan akan terbentuk, yang dengan sendiri nya awareness keluar pun akan dengan mudah dan dengan sejujurnya.
Pernah berpikir effect multiple nya ? jika setiap karyawan punya facebook minimal 10 orang teman dan memberikan cerita yang positif tentang perusahaan nya atau info terbaru tentang produk dari perusahaan tersebut ke 10 temen saja maka jika ada 700 karyawan akan ada 7000 prospek customer yang bisa di bangun dan memberikan kontribusi di era komunikasi yang terbuka ini, dan secara tidak langsung awareness itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ah sayang justru yang terjadi sebalik nya. Mungkin lupa.
The right man in the wrong place.
Satu lagi bagian penting tentang visi dari sebuah perusahaan yang terlupakan, menempatkan orang bukan pada tempat yang semestinya. Mungkin sebenarnya tidak ada masalah dengan ini tapi jika….ya jika karyawan dengan level fresh graduate atau masih proses management trainee tapi jika sebuah perusahaan yang sedang mau tumbuh, sebuah kapal yang baru mengembangkan layar menempatkan karyawan pada posisi yang tidak semestinya mungkin kapal itu harus agak pelan jalan nya. Penempatan karyawan base on kualifikasi untuk memberikan kontribusi yang maksimal dengan tantangan job desk yang sudah menanti guna mewujudkan visi perusahaan tentunya adalah hal yang paling penting apalagi untuk sekelas manager ke atas. Hmmm sayang sekali.
Customer is my Boss.
Ini adalah bagian dari sebuah mindset dari seorang karyawan. Bahwa kita bekerja ada imbal balik yang berjudul Gaji atau Salary, itu pasti. Tapi pernahkan kita berpikir dari mana gaji itu berasal ? Company is not social organization, company is collecting investor who invest their own capital in order to get more gain of their investment, it’s clear. Yah betul bukan organisasi yang non profit, mereka membiayai seluruh cost operasional dari revenue yang di dapat. Dari mana revenue itu di dapat ? dari hasil kerja keras karyawan yang berhasil meyakinkan customer untuk menikmati produk yang kita jual. Siapa karyawan itu ? apakah sales / marketing ? absolutely NO. Bahwa divisi sales dan marketing untuk berjualan itu pasti secara formal, tapi proses memaintenance pelanggan untuk memberikan kualitas service yang mumpuni adalah tugas semua karyawan agar tercipta loyalitas customer jangka panjang. Mungkin ada yang lupa jika 1 BTS saja mati terus di biarkan, apakah BTS itu menghasilkan revenue? Apakah ada customer yang loyal di situ ? lalu jika tidak ada pendapatan dari 1 BTS itu apakah tidak berpengaruh ke pandapatan total ? itu baru 1 BTS jika 100 BTS dibiarkan? Think about your salary coming up from your customer not your company, come on guys wake up and think about it.
Kekuatan hubungan komunikasi management dengan karyawan sepertinya penting untuk membuka peluang selebar – lebar nya bagi ide – ide yang luar biasa untuk setiap karyawan, memberikan ruang yang lebih untuk berkembang, menempatkan orang sesuai kualifikasi yang di butuhkan, struktur management yang kuat dan tegas, reward dan punishment yang jelas, system penggajian dengan azas fairness, mengembangkan culture perusahaan yang memberikan semangat dan motivasi, jenjang karir yang pasti. Adalah bagian dari jiwa integritas untuk membangun sebuah kapal kecil yang baru berlayar untuk menjadi besar setelah mengarungi samudra di antara badai dan ombak yang besar karena kekuatan tim yang tangguh. Saya hanya seorang kurcaci kecil yang bisa memberikan gambaran ini untuk perusahaan yang pernah menjadi tambatan hati buat saya karena saya sangat mencintai nya, saya doakan untuk sukses selalu.
—
March 4, 2011 at 4:28 am
“love u’r jobs not u’r company”